Warga Desa Ngemplak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, setiap tahun sekali menggelar ritual sadran 1.000 ketupat sebagai rasa syukur kepada Tuhan pasca panen di daerah tersebut. Ritual yang diikuti ratusan orang tersebut berlangsung di sekitar sumber air di kawasan lembah Dawuhan yang berjarak satu kilometer dari kampung. Ritual diawali setiap keluarga membawa sejumlah ketupat dikumpulkan di lokasi nyadran, setelah dilakukan doa bersama, ketupat kemudian dimakan bersama-sama dan sebagian lainnya dibawa pulang. Seorang tokoh warga Ngemplak, Tarom (68), mengatakan ritual untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Lenging yang telah membuat saluran air untuk lahan pertanian warga. Selain itu, ritual juga sebagai wujud syukur pada Tuhan Yang Maha Esa dan kecintaan pada alam lingkungan serta pelestarian sumber air. Ritual digelar usai panen, kami bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan," katanya. Ia mengatakan seribu ketupat diambil dari jumlah ketupat yang disediakan Nyai Lenging untuk Kyai Lenging dalam mengerjakan saluran air, yakni satu ketupat per hari. Pada hari ke-1.000 saat selesainya pembuatan saluran air, kemudian digelar wayang kulit sehari semalam. Ritual untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Lenging. Seribu ketupat diambil dari jumlah ketupat yang dikeluarkan Nyai Lenging. Kami juga menggelar wayang dengan lakon Rama Tambak, dalam perkembangannya ketupat yang terkumpul dari warga lebih dari seribu buah. Ia menuturkan, beberapa hari sebelum nyadran ketupat, warga membersihkan saluran air sepanjang 1,5 kilometer, selain itu juga menanam pohon di sekitar mata air untuk kelestarian alam.
Desa yang terletak diantara desa Margolelo, Kembangsari, Blimbing, Tlogopucang dan kecamatan kaloran ini memiliki potensi alam yang luar biasa dengan pengembangan potensi-potensi manusia yang ada didalamnya. Prasaranapun terus ditingkatkan dalam rangka upaya perbaikan taraf hidup masyarakat
Senin, 14 Agustus 2017
TRADISI SEWU KUPAT
Sewu Kupat
Warga Desa Ngemplak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, setiap tahun sekali menggelar ritual sadran 1.000 ketupat sebagai rasa syukur kepada Tuhan pasca panen di daerah tersebut. Ritual yang diikuti ratusan orang tersebut berlangsung di sekitar sumber air di kawasan lembah Dawuhan yang berjarak satu kilometer dari kampung. Ritual diawali setiap keluarga membawa sejumlah ketupat dikumpulkan di lokasi nyadran, setelah dilakukan doa bersama, ketupat kemudian dimakan bersama-sama dan sebagian lainnya dibawa pulang. Seorang tokoh warga Ngemplak, Tarom (68), mengatakan ritual untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Lenging yang telah membuat saluran air untuk lahan pertanian warga. Selain itu, ritual juga sebagai wujud syukur pada Tuhan Yang Maha Esa dan kecintaan pada alam lingkungan serta pelestarian sumber air. Ritual digelar usai panen, kami bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan," katanya. Ia mengatakan seribu ketupat diambil dari jumlah ketupat yang disediakan Nyai Lenging untuk Kyai Lenging dalam mengerjakan saluran air, yakni satu ketupat per hari. Pada hari ke-1.000 saat selesainya pembuatan saluran air, kemudian digelar wayang kulit sehari semalam. Ritual untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Lenging. Seribu ketupat diambil dari jumlah ketupat yang dikeluarkan Nyai Lenging. Kami juga menggelar wayang dengan lakon Rama Tambak, dalam perkembangannya ketupat yang terkumpul dari warga lebih dari seribu buah. Ia menuturkan, beberapa hari sebelum nyadran ketupat, warga membersihkan saluran air sepanjang 1,5 kilometer, selain itu juga menanam pohon di sekitar mata air untuk kelestarian alam.
Warga Desa Ngemplak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, setiap tahun sekali menggelar ritual sadran 1.000 ketupat sebagai rasa syukur kepada Tuhan pasca panen di daerah tersebut. Ritual yang diikuti ratusan orang tersebut berlangsung di sekitar sumber air di kawasan lembah Dawuhan yang berjarak satu kilometer dari kampung. Ritual diawali setiap keluarga membawa sejumlah ketupat dikumpulkan di lokasi nyadran, setelah dilakukan doa bersama, ketupat kemudian dimakan bersama-sama dan sebagian lainnya dibawa pulang. Seorang tokoh warga Ngemplak, Tarom (68), mengatakan ritual untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Lenging yang telah membuat saluran air untuk lahan pertanian warga. Selain itu, ritual juga sebagai wujud syukur pada Tuhan Yang Maha Esa dan kecintaan pada alam lingkungan serta pelestarian sumber air. Ritual digelar usai panen, kami bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan," katanya. Ia mengatakan seribu ketupat diambil dari jumlah ketupat yang disediakan Nyai Lenging untuk Kyai Lenging dalam mengerjakan saluran air, yakni satu ketupat per hari. Pada hari ke-1.000 saat selesainya pembuatan saluran air, kemudian digelar wayang kulit sehari semalam. Ritual untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Lenging. Seribu ketupat diambil dari jumlah ketupat yang dikeluarkan Nyai Lenging. Kami juga menggelar wayang dengan lakon Rama Tambak, dalam perkembangannya ketupat yang terkumpul dari warga lebih dari seribu buah. Ia menuturkan, beberapa hari sebelum nyadran ketupat, warga membersihkan saluran air sepanjang 1,5 kilometer, selain itu juga menanam pohon di sekitar mata air untuk kelestarian alam.
Minggu, 13 Agustus 2017
UKM NGEMPLAK


UMKM Manggleng dan Ceriping Pisang
Nama Pemilik : Ibu Kenty
Alamat : Dusun RowoSeneng, Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Temanggung.
RT/RW : 01/09
RT/RW : 01/09
Nomor : 085290443645
Bahan Baku : Ketela dan Pisang
Kamis, 10 Agustus 2017
SEJARAH
Desa Ngempak adalah salah satu desa di kabupaten Temanggung yang berdiri kurang lebih pada tahun 1826 atau pada saat perang Diponegoro berlangsung, sampai saat ini masih berdiri dan diperintah/ yang menjadi Kepala Desa dari satu keturunan secara turun-menurun sampai saat ini keturunan yang kesembilan dari Lurah pertama R.Merto Lesono dan pusat pemerintahan berganti-ganti sesuai dengan rumah tempat tinggalnya. Sejak tahun 1990 sampai sekarang pusat Pemerintahan terletak di Dusun Ngemplak kembali bermula sejak adanya pemerintahan di desa Ngemplak.
Adapun yang menjadi Lurah/Kepala Desa Ngemplak sebagai berikut:
1. Tahun 1826-1850 R. Merto Lesono
2. Tahun 1851-1891 R. Merto Taruno
3. Tahun 1892-1895 R. Kertorejo
4. Tahun 1896-1929 Wiro Dimejo
5. Tahun 1930-1943 Sastro Dimejo
6. Tahun 1944-1975 Marto Diharjo
7. Tahun 1976-1980 Sahri
8. Tahun 1981-1989 Harjo Hadi Sumarto
9. Tahun 1990-2007 Sibyani
10.Tahun 2007- Sri Astuwidi Subagyo
Langganan:
Komentar (Atom)